Rabu, 27 April 2011

13 Luka Berat, 4 Petani Tertembak

Rabu, 27 April 2011 | 10:11 WIB
Kebumen, Kompas - Situasi terakhir Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pascabentrok antara petani dan aparat TNI Angkatan Darat, Sabtu (16/4) malam, masih mencekam. Petani menuntut TNI bertanggung jawab terhadap aksi penembakan dan penganiayaan yang menyebabkan 4 petani tertembak dan sekitar 13 petani lain luka berat.
Dari pemantauan Kompas di RSUD Kebumen pukul 21.00 semalam, tercatat sembilan petani
masih dirawat intensif di ruang instalasi gawat darurat. Empat korban menderita luka tembak. Korban lain dirawat di RS PKU Muhammadiyah Serueng dan RS PKU Petanahan.
Kendati tak tertembak, kondisi sebagian korban di RSUD Kebumen umumnya cedera serius. Dua orang patah kaki akibat kena popor senjata laras panjang. Salah satu korban, Mustofa (65), terluka paling parah karena gegar otak ringan serta lebam akibat pukulan di dada, punggung, dan tengkuk. Mustofa terus-menerus muntah darah.
Kepala Penerangan Kodam IV/Diponegoro Letkol Inf Zainal M, Sabtu malam, mengemukakan, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Langgeng Sulistiyono menyesalkan bentrokan itu.
Bentrokan seharusnya tak terjadi karena rencana latihan militer dan uji senjata berat di lokasi tersebut telah dibatalkan dan dialihkan ke Lumajang. ”Karena ini tidak disangka-sangka terjadi. Yang mau latihan sudah bergeser, anggota yang tinggal di sanahanya anggota yang menjaga Kantor Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD,” kata Zainal.
”Dari informasi, warga merangsek sampai masuk ke pagar kantor yang dijaga anggota TNI. Warga berusaha masuk dan merusak instalasi telepon di Kantor Dislitbang, kebetulan di sana ada gudang penyimpanan sementara amunisi. Karena khawatir membahayakan, anggota yang berjaga berusaha mempertahankan diri,” kata Zainal.
Menurut sejumlah petani, bentrok terjadi saat puluhan petani, pukul 10.00, pulang dari berziarah di makam lima orang yang meninggal pada 1997 akibat terkena mortir aktif milik TNI AD di areal pertanian Desa Setrojenar.
Sesampainya di dekat Kantor Dislitbang TNI AD di Pantai Bocor, para petani membetulkan ”blokade” palang kayu yang dipasang warga sejak 12 April 2011. Pemblokiran jalan menuju Kantor Dislitbang TNI AD dilakukan karena warga bersikeras menolak latihan perang dan uji senjata berat di kawasan Urut Sewu. Sengketa lahan antara TNI dan petani terjadi sejak 2004.
Tentara mendatangi warga yang berjaga di titik blokade dan bermaksud membubarkannya. Namun, warga menolak pergi.
Pukul 13.30, menurut petani, sekitar 100 tentara keluar dari Kantor Dislitbang TNI AD yang hanya berjarak 10 meter dari lokasi kejadian. Tentara langsung menyerbu warga. ”Mereka langsung memukuli kami dengan popor senjata,” ujar Wahyudi, salah seorang korban.
Petani yang ketakutan lari ke perkampungan. Saat itulah, tentara menembaki petani dengan senapan. Beberapa petani langsung berjatuhan. Selanjutnya hingga pukul 17.00, tentara melakukan sweeping ke perkampungan, mencari tokoh-tokoh penentang pemanfaatan kawasan Urut Sewu untuk lahan latihan perang TNI.
Diperoleh informasi, semalam jajaran musyawarah pimpinan daerah Kebumen langsung membahas insiden bentrokan tersebut bersama Panglima Kodam IV Diponegoro, kepala polres, dan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah. (GRE/SON)
http://regional.kompas.com/read/2011/04/17/03162444/13.luka.berat.4.petani.tertembak?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd

0 komentar:

Posting Komentar